12 Juni 2008

Investasi Properti

Properti sendiri arti sebenarnya adalah kepemilikan yang dapat dipindah tangankan. Secara umum properti dibagi beberapa jenis yaitu real properti (tanah / bangunan), barang-barang fisik, dan intelektual properti (hak cipta). Jadi hampir semua barang yang bisa dimiliki disebut properti. Nah properti yang saya maksud dalam tulisan ini lebih spesifik kepada tanah atau bangunan.

Hal terpenting yang perlu Anda ketahui jika ingin berinvestasi di properti yaitu adanya perbedaan sifat investasi antara tanah dan bangunan.
Tanah memiliki keunikan tersendiri karena sifat harga tanah akan selalu mengalami kenaikan, meskipun tidak dikelola sama sekali.

Sementara untuk bangunan bukannya mengalami kenaikan justru penurunan, karena dibutuhkan biaya perawatan. Bangunan hanya akan menghasilkan jika dikelola untuk usaha atau disewakan.
Berinvestasi di tanah merupakan investasi jangka panjang tetapi paling aman, karena barang tidak bergerak dan harganya cenderung akan meningkat, hanya saja likuiditasnya sangat rendah. Justru terutama pada saat-saat ekonomi sulit, tanah semakin sulit untuk dijual. Tanah yang murah biasanya lokasi tidak strategis dan sedikit peminat, tanah dengan lokasi strategis harganya terlalu mahal sehingga jumlah pembeli yang sanggup pun sedikit. Bagaimanapun tanah strategis lebih menjanjikan dibandingkan lokasi pertama.

10 Juni 2008

BERSERU

Pada suatu hari seorang nabi tiba di sebuah kota untuk menobatkan para penduduknya. Mula-mula orang kota mendengarkan khotbah-khotbahnya, tetapi lama-kelamaan mereka tidak datang lagi, sampai tidak ada segelintir orang pun yang mendengarkan kata-kata sang nabi.

Pada suatu hari seorang musafir bertanya kepada nabi: 'Mengapa Anda masih saja terus berkhotbah? Apakah Anda tidak tahu, bahwa tugas Anda itu sia-sia saja?'

Jawab sang nabi: 'Pada mulanya aku berharap dapat mengubah mereka. Kini aku masih terus berseru, agar supaya mereka jangan mengubah aku!'

06 Juni 2008

Beli Bibit Jangan Buah

Seorang wanita bermimpi masuk ke sebuah toko baru di pasar, dan terkejut, menemukan Tuhan di belakang toko.

"Engkau menjual apa di sini?" ia bertanya.

"Apa saja yang menjadi keinginan hatimu," kata Tuhan.

Hampir tak berani percaya apa yang didengarnya, wanita itu memutuskan minta hal-hal paling baik, yang dapat diinginkan seorang manusia.

"Aku minta ketenteraman hati dan cinta dan bahagia dan bijaksana dan bebas dari sakit." katanya, lalu sebagai pikiran kemudian ditambahkan, "Tidak hanya untuk saya. Untuk semua orang di dunia."

Tuhan tersenyum. "Kukira, engkau menafsirkan aku salah, nak," kata-Nya.
"Kami tidak menjual buah di sini. Hanya benih."

03 Juni 2008

Bahlul dan Tahta Raja

Bahlul yang bijaksana sering menyembunyikan kecendekiaannya di balik tabir kegilaan. Dengan itu, ia dapat keluar masuk istana Harun Al-Rasyid dengan bebasnya. Sang Raja pun amat menghargai bimbingannya.

Suatu hari, Bahlul masuk ke istana dan menemukan singgasana Raja kosong. Dengan enteng, ia langsung mendudukinya. Menempati tahta Raja termasuk ke dalam kejahatan berat dan boleh dihukum mati. Para pengawal menangkap Bahlul, menyeretnya turun dari tahta, dan memukulinya. Mendengar teriakan Bahlul yang kesakitan, Raja segera menghampirinya.

Bahlul masih menangis keras ketika Raja menanyakan sebab keributan ini kepada para pengawal. Raja berkata kepada yang memukuli Bahlul, “Kasihan! Orang ini gila. Mana ada orang waras yang berani menduduki singgasana Raja?” Ia lalu berpaling ke arah Bahlul, “Sudahlah, tak usah menangis. Jangan kuatir, cepat hapus air matamu.” Bahlul menjawab, “Wahai Raja, bukan pukulan mereka yang membuatku menangis. Aku menangis karena kasihan terhadapmu!”

“Kau mengasihaniku?” Harun mengherdik, “Mengapa engkau harus menangisiku?” Bahlul menjawab, “Wahai Raja, aku cuma duduk di tahtamu sekali tapi mereka telah memukuliku dengan begitu keras disini sekarang juga. Apalagi kau, kau telah menduduki tahtamu selama dua puluh tahun. Pukulan seperti apa yang akan kau terima nanti di akhirat? Aku menangis karena memikirkan nasibmu yang malang…

Bergidiklah Sang Raja sambil mencucurkan air mata.