24 Agustus 2008

Pesta Penyambutan Tak Terduga


Hahaha... Selamat Anda pelanggan kami yang ke 1jt... dan acara ini ditayangkan ke seluruh dunia

21 Juni 2008

Pelayan Sang Raja

Suatu ketika Sang Raja sedang menjamu seorang tamu. Dari balik singgasananya Ia memerintahkan para budak untuk mengangkat gelas menghormati tamu tersebut. Semua budak pun mengangkat gelas termasuk budak kesayangan Sang Raja.

Ketika Sang Raja menampakkan diri, budak kesayangan terpana dan bergetar seluruh tubuhnya hingga terjatuhlah gelas ditangannya pecah berkeping-keping.

Budak2 lain melihat hal itu ikut melempar gelas-gelas mereka hingga pecah.
Sang Raja bertanya "Mengapa kalian lakukan itu?"
"Karena budak kesayanganmu melakukannya wahai Raja"
"Ia tidak melakukannya, Akulah yang melakukannya"

20 Juni 2008

Pengemis dan Sang Raja

Alkisah dua orang pengemis datang kepada Sang Raja. Pengemis pertama meminta dengan sangat rendah hati, ramah dan menyenangkan hati Sang Raja. Sedangkan pengemis kedua meminta dengan seenak hatinya seakan butuh tidak butuh kepada Sang Raja.

Sang Raja merasa jijik dengan pengemis kedua, Ia menyuruh pelayannya segera melemparkan roti kepada pengemis kedua agar ia segera pergi dari hadapan-Nya.

Sedangkan pada pengemis pertama Ia merasa senang dan gembira akan kedatangannya. Ia menyuruh pelayan mengatakan bahwa roti belum masak dan suruhlah ia menunggu dengan sabar. Dengan sabar si pengemis menunggu di pintu Sang Raja. Sang Raja asyik berlama-lama mendengar ratapan dan pujian dari si pengemis, hingga akhirnya Ia-pun merasa kasihan padanya. Lalu dengan berat hati disuruhnya pelayan memenuhi permintaannya. Hingga pergilah si pengemis.

Sejak Sang Raja selalu rindu untuk bertemu di kehidupan istana-Nya.

17 Juni 2008

Teori Kebutuhan

Nasrudin berbincang-bincang dengan hakim kota. Hakim kota, seperti umumnya cendekiawan masa itu, sering berpikir hanya dari satu sisi saja. Hakim memulai, "Seandainya saja, setiap orang mau mematuhi hukum dan etika..."

Nasrudin menukas, "Bukan manusia yang harus mematuhi hukum, tetapi justru hukumlah yang harus disesuaikan dengan kemanusiaan."

Hakim mencoba bertaktik, "Tapi coba kita lihat cendekiawan seperti Anda. Kalau Anda memiliki pilihan: kekayaan atau kebijaksanaan, mana yang akan dipilih?"

Nasrudin menjawab seketika, "Tentu, saya memilih kekayaan."

Hakim membalas sinis, "Memalukan. Anda adalah cendekiawan yang diakui masyarakat. Dan Anda memilih kekayaan daripada kebijaksanaan?"

Nasrudin balik bertanya, "Kalau pilihan Anda sendiri?"

Hakim menjawab tegas, "Tentu, saya memilih kebijaksanaan."

Dan Nasrudin menutup, "Terbukti, semua orang memilih untuk memperoleh apa yang belum dimilikinya."