10 Juni 2008

BERSERU

Pada suatu hari seorang nabi tiba di sebuah kota untuk menobatkan para penduduknya. Mula-mula orang kota mendengarkan khotbah-khotbahnya, tetapi lama-kelamaan mereka tidak datang lagi, sampai tidak ada segelintir orang pun yang mendengarkan kata-kata sang nabi.

Pada suatu hari seorang musafir bertanya kepada nabi: 'Mengapa Anda masih saja terus berkhotbah? Apakah Anda tidak tahu, bahwa tugas Anda itu sia-sia saja?'

Jawab sang nabi: 'Pada mulanya aku berharap dapat mengubah mereka. Kini aku masih terus berseru, agar supaya mereka jangan mengubah aku!'

06 Juni 2008

Beli Bibit Jangan Buah

Seorang wanita bermimpi masuk ke sebuah toko baru di pasar, dan terkejut, menemukan Tuhan di belakang toko.

"Engkau menjual apa di sini?" ia bertanya.

"Apa saja yang menjadi keinginan hatimu," kata Tuhan.

Hampir tak berani percaya apa yang didengarnya, wanita itu memutuskan minta hal-hal paling baik, yang dapat diinginkan seorang manusia.

"Aku minta ketenteraman hati dan cinta dan bahagia dan bijaksana dan bebas dari sakit." katanya, lalu sebagai pikiran kemudian ditambahkan, "Tidak hanya untuk saya. Untuk semua orang di dunia."

Tuhan tersenyum. "Kukira, engkau menafsirkan aku salah, nak," kata-Nya.
"Kami tidak menjual buah di sini. Hanya benih."

03 Juni 2008

Bahlul dan Tahta Raja

Bahlul yang bijaksana sering menyembunyikan kecendekiaannya di balik tabir kegilaan. Dengan itu, ia dapat keluar masuk istana Harun Al-Rasyid dengan bebasnya. Sang Raja pun amat menghargai bimbingannya.

Suatu hari, Bahlul masuk ke istana dan menemukan singgasana Raja kosong. Dengan enteng, ia langsung mendudukinya. Menempati tahta Raja termasuk ke dalam kejahatan berat dan boleh dihukum mati. Para pengawal menangkap Bahlul, menyeretnya turun dari tahta, dan memukulinya. Mendengar teriakan Bahlul yang kesakitan, Raja segera menghampirinya.

Bahlul masih menangis keras ketika Raja menanyakan sebab keributan ini kepada para pengawal. Raja berkata kepada yang memukuli Bahlul, “Kasihan! Orang ini gila. Mana ada orang waras yang berani menduduki singgasana Raja?” Ia lalu berpaling ke arah Bahlul, “Sudahlah, tak usah menangis. Jangan kuatir, cepat hapus air matamu.” Bahlul menjawab, “Wahai Raja, bukan pukulan mereka yang membuatku menangis. Aku menangis karena kasihan terhadapmu!”

“Kau mengasihaniku?” Harun mengherdik, “Mengapa engkau harus menangisiku?” Bahlul menjawab, “Wahai Raja, aku cuma duduk di tahtamu sekali tapi mereka telah memukuliku dengan begitu keras disini sekarang juga. Apalagi kau, kau telah menduduki tahtamu selama dua puluh tahun. Pukulan seperti apa yang akan kau terima nanti di akhirat? Aku menangis karena memikirkan nasibmu yang malang…

Bergidiklah Sang Raja sambil mencucurkan air mata.

30 Mei 2008

Pengemis dan si Kikir

Sudah lama pengemis itu berdiri di depan sebuah rumah gedung yang mirip istana. Karena merasa terganggu, yang punya rumah menyuruh pelayannya untuk mengusir pengemis tersebut. Tetapi pengemis itu tidak bergeming dari tempatnya.

Ia menjawab, "Saya datang tidak untuk disuruh pergi begitu saja, Saya datang untuk bertemu dengan yang punya rumah ini, Saya adalah tamu, dan tamu harus dihormati, kalau tidak mau didatangi tamu, jangan bikin rumah di tepi jalan."

Jawaban ini dilaporkan oleh para pelayan kepada majikannya. Maka orang kaya yg gendut itu segera keluar dg jengkel.

Ia menghardik, "Ada perlu apa?"
"Saya mau minta hak saya sendiri sebagai orang tidak punya."
"Hak apa?"
"Sedekah."
"Tidak ada uang kecil," jawab si hartawan ketus.
"Yang besar juga boleh," bantah pengemis.
"Yang kecil saja tidak ada, apalagi yg besar," sahut si kikir tidak kehabisan dalih.
Dengan mendongkol pengemis berkata, "Perkenankan saya minta makanan saja."
"Tidak ada," jawab si kikir tambah sebal.
"Biarlah sisa2 roti atau nasi kalau ada." ujar pengemis belum putus asa.
"Tidak punya."
"Pakaian bekas?"
"Tidak ada."
"Yang baru juga boleh."
"Yang bekas saja tidak ada, apalagi yang baru," sahut si bakhil dongkol.
"Kalau begitu, tolong saya minta segelas air," ucap pengemis karena haus.
"Tidak ada," sahut si kikir tetap keras wataknya.
"Kalau begitu lebih baik Tuan ikut saya saja."
"Ikut kamu? Ke mana?" tanya si hartawan yg bakhil keheranan.
"Mengemis, sebab Tuan tidak punya apa2" ujar si pengemis dengan kesal.